Komunitas yang berusaha senantiasa progresif dan istiqomah di jalan-Nya

Sunday, April 01, 2007

DAD Bersama


Semarang. Jum'at (30/03) kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) yang dilakukan oleh Koordinator Komisariat (KorKom) Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) dan PC IMM Kota Semarang dibuka. Acara ini di gelar di Islamic Center Kota Semarang. Acara ini mulai digelar Jum'at sore (30/3), di buka oleh Pembantu Rektor (PR III) UNIMUS sekaligus mewakili Rektor UNIMUS. Acara ini juga dihadiri oleh para piminan IMM Kota Semarang, delegasi PK IMM HAMKA UNNES, PK IMM Al Faruqi, PK IMM Ibnu Sina UNDIP Tembalang, PK IMM Fatahillah UNDIP Pleburan dan turut hadir pula jajaran pimpinan DPD IMM Jawa Tengah dan DPD IMM Jawa Barat.

DAD ini sangat sukses, diikuti oleh 250 mahasiswa/wi UNIMUS, dan peserta dari PK IMM se-Kota Semarang. Tema yang diangkat "Menciptakan Pimpinan Yang Anggun dalan moral dan Unggul dalam Intelektual" adalah berangkat dari sebuah semangat untuk mencetak para pimpinan yang handal dan sebagai penerus, pelangsung dan penyempurna dakwah Islam Amar Ma'ruf Nahi Mungkar.

Semoga kader-kader yang mengikuti DAD bersama ini bisa melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan IMM ke depan. amin. Adms.

Tuesday, December 26, 2006


Sabtu, 16 Desember 2006
http://suara-muhammadiyah.or.id


Pemerintah Membuka Peluang Bagi Perusakan Lingkungan?
Prof.DR. Mujiyono Abdillah, MA*

Lingkungan alam negeri kita yang dulu sangat indah, subur dan menyejukkan, sekarang berubah menjadi gersang, tandus dan menyesakkan. Hal ini diakibatkan adanya pembabatan hutan, penambangan, penggusuran, dan pembakaran lahan. Kita paham bahwa sebenarnya kerusakan dan perusakan lingkungan ini sebagai masalah struktural, dimana ketidak berdayaan aparat negara dan hukum justru menjadi biang utama. Akhirnya rakyat kecil jua yang selalu menjadi korban dan dikorbankan. Benarkah demikian dan bagiamana pandangan Islam terhadap masalah ini, perlukah adanya Fiqh Lingkungan? Lebih jelasnya berikut kita ikuti wawancara Ton Martono dari SM dengan Prof.DR. Mujiyono Abdillah, MA., Direktur LPER (Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat), Guru Besar IAIN Walisongo Semarang, Direktur Lembaga Investasi Syari’ah (LIS), Staf Pengajar Ilmu Lingkungan UNDIP dan Ekologi Religi Islam, Penulis buku Teologi Lingkungan Islam dan Fiqh Lingkungan.
Kenapa kerusakan dan perusakan lingkungan yang terjadi menjadi sulit diatasi, apakah hal ini disebabkan oleh ketidakberdayaan aparat negara dan hukum dalam mengatasi masalah ini?
Kerusakan lingkungan itu penyebabnya macama-macam, tapi satu diantaranya yang paling serius adalah karena masalah ekonomi. Ekonomi disini bisa jadi karena adanya faktor kemiskinan, jadi siapapun atau masyarakat bahwa merusak lingkungan itu karena terdesak oleh kondisi ekonomi yang miskin, istilah lainnya adalah merusak lingkungan itu karena faktor perut. Dalam keadaan darurat lebih penting lingkungannya atau lebih penting perutnya, kita tahu bahwa di Indonesia ini justru mayoritas masyarakatnya miskin jadi perusakan lingkungan ini bisa jadi karena faktor kemiskinan. Misalnya masyarakat petani yang memiliki lahan yang sangat terbatas otomatis mereka kemudian menggunakan lahan yang terbatas itu secara maksimal, kalau mereka tinggal di daerah pegunungan, maka hutan lindung yang mengitarinya bisa dipastikan dibabat habis untuk kepentingan lahan pertanian, tepian sungai yang seharusnya tidak boleh ditanami dengan tanaman-tanaman semusim, mereka terpaksa menggarap lahan-lahan tepi sungai itu.
Melihat fenomena tadi bagaimana cara mengatasinya?
Solusinya dengan pemberdayaan ekonomi mereka supaya tidak miskin dan tidak merusak lingkungan Jadi mereka menebang kayu di hutan untuk dijual karena faktor kemiskinan, tetapi disisi lain ada orang kuat harta sengaja menenabangi kayu di hutan secara liar bukan karena kemiskinan tetapi karena keserakahan. Pembabatan hutan seperti ini merupakan bentuk kejahatan karena mereka mengakumulasikan dan mengeksploitasi untuk memperkaya diri, salah satu contoh melakukan penambangan, penebangan hutan, yang seharusnya tidak merusak, justru melakukan perusakan dengan menggunakan alat-alat berat ini karena keserakahan untuk menuju hidup tuju turunan. Kalau melihat fenomena tadi penanggulangannya harus dengan pendekatan spiritual agama.
Secara struktural siapa sesungguhnya yang diuntungkan dalam perusakan lingkungan ini?Secara struktural pemerintah justru membuka peluang dalam perusakan lingkungan, Departemen Kehutanan misalnya mengeluarkan izin prinsip kepada pengusaha tentang galian C , kalau kemudian terjadi kerusakan lingkungan mereka tidak peduli, karena sudah mengantongi izin, memang secara yuridis sudah benar, Tapi kemudian ketika mengadakan eksplorasi dan eksploitasi ditemukan kandungan gas dan minyak mereka dengan rakusnya tidak hanya membabati hutan tapi sekaligus menggali dengan kasarnya, ini jelas kesalahan struktural karena akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Karena kesalahan ini merupakan kesalahan struktural maka pertobatannya juga harus secara struktural, eksekutifnya, legislatifnya harus tobat, dan saya kira izin prinsip yang berpeluang menyebabkan kerusakan lingkungan harusa dihentikan.
Kenapa dalam kerusakan dan perusakan lingkungan itu bisa dipastikan rakyat kecil selalu menjadi korban dan dikorbankan?
Karena rakyat kecil itu memiliki nasib yang tidak menguntungkan, meraka tidak mempunyai kekuasaan dan tidak memiliki kekuatan apa-apa, sehingga bila terjadi perusakan dan kerusakan lingkungan rakyat kecil selalu dijadikan korban, bahkan mereka tidak mampu melakukan pembelaan dalam setiap sengketa yang terjadi, karena itu mereka selalu dikalahkan. Yang lebih ironis lagi adalah sudah tahu rakyatnya lemah masih ditindas baik oleh pengusaha maupun oleh pemerintah.
Jadi perusakan dan kerusakan lingkungan itu terjadi sebagai masalah kultural dan moral?Satu sisi penyebabnya bisa karena kultural dan disisi lain penyebabnya karena masalah moral, bahkan satu lagi penyebabnya karena struktural. Secara moral terjadi karena sekarang ini ada tuntutan materialisme dan hedinistik, bahwa hidup berkelebihan dan hidup bermewah-mewahan ini kan menjadi way of life, hidup serba glamour dan foya-foya baik pengusahanya maupun pejabatnya sama saja.Melihat fenomena tadi masyarakat menjadi terjangkit untuk melakukan hal yang sama. Supaya hal ini tidak berkembang, maka diperlukan yang namanya etika lingkungan. Dan Islam kan mengajarkan adanya panduan yang namanya etika lingkungan Islam.
Mengapa kearifan kultural lokal yang dulu mampu menjadi penghambat perusakan lingkungan kini kurang berfungsi?Kearifan lokal yang dulu bersahabat dengan lingkungan itu tumbuh berkembang pada masyarakat yang agraris. Ketika terjadi transformasi perubahan besar dari masyarakat agraris kepada industri, disinilah kearifan lokal itu kemudian bergeser. Di dalam masyarakat tertentu yang masih memiliki kearifan lokal ada upacara-upacara tradisional dalam rangka untuk melestarikan lingkungan, tetapi kemudian saekarang bergeser, satu sisi bergesernya kearifan lokal itu adalah satu sikap perubahan dari transformasi era agraria ke era industrialisasi. Kemudian bisa juga karena rasionalisasi, kearifan lokal itu dulu disebut “ gugon tuhon” artinya nenek moyang kita memiliki keyakinan seperti ini, maka turunannya melakukan upacara ritual, Tapi kemudian rasionalisme yang dangkal dan radikal itu menganggap upacara ritual itu tidak masuk akal seperti sedekah laut, sesaji gunung dan sebagainya, karena Muhammadiyah itu termasuk aliran agama islam yang lebih cenderung rasionalisme maka kemudian ketika melihat upacara ritual itu juga salah satu dakwah Muhammadiyah ini adalah mengiliminasi kearifan lokal tadi (maaf kalau hal ini sedikit menyinggung Muhammadiyah) tanpa pilah-pilah semua itu dianggap tahayul, bid’ah dan khurafat (tbc).Lalu sekarang ini terjadi keresahan sebab Muhammadiyah diakui atau tidak diakui sebagai salah satu penyebab hilangnya kearifan lokal dalam masyarakat tertentu. Padahal sebenarnya kita harus melakukan resening bahwa kearifan lokal misalnya sedekah bumi, kali, hutan dan sedekah laut substansi dan artikulasi sebenarnya apa yang ada disana, sebenarnya masayarakat nelayan itu adalah masyarakat yang tergantung dengan laut, hidupnya tergantung berkahnya laut oleh karena itu sebagai rasa sukurnya dan rasa terimakasihnya masyarakat terhadap laut maka kemudian mereka melakukan upacara ritual berupa “ larungan” antara lain membawa sesaji sebagai simbul, nah Muhammadiyah melihatnya bukan dari simbolisasinya tetapi musyriknya. Jadi menurut saya yang harus kita tangkap adalah spirit dari kearifannya itu bukan perbuatan musyriknya.
Kenapa secara moral dan etika individu dari warga masyarakat belum bisa menjadi benteng pertahahanan untuk menghambat lajunya perusakan lingkungan? Kalau kita lihat kasus perkasus sebenarnya banyak semangat etika individu yang melestarikan lingkungan misalnya di Jawa Barat ada seorang nelayan atau petani tambak yang tergiur dengan tren udang maka semua melakukan satu usaha perikanan udang windu yang padat modal tapi memang sekali berhasil milayran rupiah bisa diraup, tetapi bila gagal langsung jatuh, sementara petambak tradisional, penghasilan biasa-biasa saja tidak menyolok, ketika ada orang beramai-ramai menebang pohon bakau ada seorang tokoh lingkungan yang mencegahnya karena pohon bakau merupakan satu ekosistem yang sangat penting. Jadi ada etika moralitas individu untuk kalangan tertentu dan ini perlu kita kembangkan. Masyarakat kita adalah masyarakat primordial, maka perlu ketokohan dan keberhasilan seorang tokoh akan diikuti oleh anggota masyarakat ini barangkali yang perlu kita kembangkan perlu didukung, jadi selain semangat etika dan moral secara individu tetapi juga perlu dukungan moral dari landasan-landasan spiritual, disinilah perlu yang namanya dakwah lingkungan, jadi khotbah-khotbah itu sebaiknya juga diisi dengan upaya pelestarian lingkungan karena itu perlu penyadaran satu sisi adalah melalui nilai positif dari primordialism keteladanan saeseorang tetapi disisi lain perlu juga pencerahan spiritual bahwa ajaran agama kita itu ternyata sangat apresiatif terhadap pelestarian lingkungan. Sekarang ini diakui atau tidak kalangan agamawan itu belum banyak yang peduli terhadap masalah lingkungan. Jadi kerusakan lingkungan itu bukan hanya tanggungjawab individu tetapi merupakan tanggungjawab kita bersama masyarakat, pengusaha, legislatif dan pemerintah.
Melihat fenomena tersebut bagaimana pandangan Islam (ajaran agama) kaitannya dengan masalah lingkungan? Sebenarnya agama Islam itu sangat netral, tapi kemudian ketika Islam itu berkembang maka bisa jadi seakan-akan Islam permisif terhadap kerusakan lingkungan. Sehingga sekarang ini tergantung bagiaman kita akan mengembangkan agama Islam itu seperti apa, misalnya ketika orang ramai-ramai terkena salah satu paham dan juga terkena imbas perkembangan ilmu dan teknologi, Islam tidak ikut-ikutan karena Islam itu sangat menghargai manusia. Karena manusiaa sebagai makhluk istimewa ciptaan Allah, pemahaman yang seperti ini adalah pemahaman yang kurang bersahabat dengan lingkungan. Karena menganggap bahwa manusia adalah segala-galanya, faham seperti itu hingga sekarang masih ada dan berkembang di lingkungan masyarakat, kalau hal itu dikembangkan terus, berarti mendorong kita untuk merusak lingkungan. Padahal sebenarnya agama Islam itu bisa kita kemas menjadi agama yang holistis, agama yang proporsional dan agama yang ramah terhadap lingkungan, jadi artikulasi keramaham agama terhadap lingkungan ini yang harus kita kembangkan. Mencari rejeki mengelola sumberdaya lingkungan itu dianjurkan tetapi harus ada tanggungjawab, kalau kita mau menggunakan maka kita juga harus bersedia merawat dan melestarikan. Disini ada tiga pilar etika Islam yang pertama adalah asas tanggungjawab yang kedua asas penghematan dan ketiga asas peri kemakhlukan. Jadi dalam Islam dikembangkan bahwa hidup itu harus hemat sebab sumberdaya alam ternyata terbatas, energi matahari juga terbatas, kalau sumber itu sampai habis maka habis pula riwayat manusia. Disamping itu sumber air juga terbatas, maka kita harus hemat air, kita setiap hari menggunakan air tetapi kita tidak pernah berfikir bagaimana kita bertanggungjawab untuk membangun sumber air itu dari mana, bahwa sumebr air itu dari pohon yang bisa menyimpan air. Kita tidak pernah berfikir bahwa jariyah pohon itu termasuk amal jariyah yang bisa melestarikan kehidupan kita. Kalau kita wakaf hanya untuk Masjid untuk pondok pesantren, untuk sekolahan tetapi kita tidak pernah wakaf untuk hutan, untuk taman,dan seterusnya, kita bikin rumah tetapi tidak pernah befikir bagaimana membuat sumur resapan. Jadi kalau kita mau membangun apa saja harus memiliki tanggungjawab bahwa sumebr air itu asalnya dari mana, nah disitulah sebenarnya kami mengembangkan yang namanya Fiqh Lingkungan.
Apa yang dimaksud Fiqh Lingkungan itu?Sebagai penjabaran dari agama Islam yang kita yakini adalah ramah terhadap lingkungan, maka untuk bisa dijabarkan dalam panduan-panduan yang lebih operasional, nah disitulah adanya pedomena yang disebut sebagai Fiqh Lingkungan. Fiqh Lingkungan itu diperlukan untuk panduan opersional dalam membangun fasilitas kehidupan manusia dengan dilengkapi lingkungan yang asri taman-taman yang rindang sejuk dan indah dipandang konsep ini sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Ton.
*Guru Besar IAIN Walisongo Semarang

Wednesday, October 18, 2006


Musyawarah Daerah (MUSYDA) XIV
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
Jawa Tengah


Semarang. Dalam waktu yang dekat ini PC IMM Kota Semarang akan disibukkan oleh "gawe" yang sangat menyibukkan yaitu Musyawarah Daerah (MUSYDA) XIV Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah. Acara ini adalah reorganisasi DPD IMM ditingkatan propinsi Jawa Tengah. melibatkan kurang lebih 200-an kader dan pimpinan semua level pimpinan di seluruh Jawa Tengah. Acara yang diikuti oleh Pimpinan Komisariat (PK) dan Pimpinan Cabang (PC) seluruh Jawa Tengah ini akan di gelar insyaallah pada tanggal 30 November - 3 Desember 2006 di Islamic Center Manyaran Kota Semarang Jawa Tengah. Semoga ini menjadi momentum yang sangat berarti tidak hanya menjadi "medan pertempuran" para calon tapi lebih kepada visi dan angan-angan untuk IMM Jawa Tengah ke depan. amin.

Wednesday, June 07, 2006

Susunan Personalia
PIMPINAN CABANG
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
KOTA SEMARANG
Periode 2006-2007


Ketua Umum : Immawan Zaidi Basiturrozak
Ketua Organisasi : Immawati Dyah Kurnia Nur Imani
Ketua Kader : Immawan Mifakhudin
Ketua Hikmah : Immawan Irvan
Ketua Iptek : Immawati Rosidatun Nisak
Ketua Sosmi : Immawan Tokoh Wijoyo Waluyo
Ketua Immawati : Immawati Eri Dwi Arti

Sekretaris Umum : Immawan Akhirudin Subkhi
Sekretaris Organisasi : Immawan Reza Fahlefi
Sekretaris Kader : Immawan Taufiq
Sekretaris Hikmah : Immawan Abdul
Sekretaris Iptek : Immawan Sigit Prasetyo
Sekretaris Sosmi : Immawati Indah
Sekretaris Immawati : Immawati Ria Sari

Bendahara Umum : Immawan Evan Sakti Herawan

Lembaga Pers : Immawan Sumitro
Immawan Yudi Najibullah

Korps Instruktur : Immawan Nuruzzaman
Immawan Karnadi

Pimpinan Cabang
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Kota Semarang



Assalamu'alaikum wr wb

Teriring do'a dan shalawat, semoga cinta, rahmat dan kasih sayang-Nya tak terhenti-hentinya tercurah kepada setiap hamba-Nya sehingga di beri kekuatandan ketabahan untuk menjalankan amanah perjuangan hidup.
Berkaitan dengan Re-Organisasi Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Semarang, maka kami bermaksud mengundang Bapak/ Ibu/ Saudara/i dalam acara Pelantikan dan Diskusi Kebangsaan "Praksis Gerakan untuk Meneguhkan kembali Komitmen Ke-Indonesiaan" yang insyaallah akan dilaksanakan pada :
Hari : Sabtu, 10 juni 2006
Waktu : 07.00-12.00 WIB
Tempat : Gedung PDM Kota Semarang, Jl. Singosari Timur 1 A Semarang
Acara : terlampir
Demikian undangan ini kami sampaikan, besar harapan kami agar bapak/ Ibu/ Saudara/i berkenan menghadiri acara ini. Atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.

Billahi fii sabililhaq Fastabiqul khairat
wassalamu'alaikum wr wb


Semarang, 1 juni 2006

Ketua Umum Sekretaris Umum


Zaedi Basiturrozak Akhirudin Subkhi



C.p: Zaidi (085640373716) atau (024) 8447350
Akhirudin S (081325461533)

-------------------------------------------------------------------------------------
Lampiran:
Manual Acara


07.00-08.00 : Presensi Peserta
08.00-09.00 : Upacara Pembukaan dan Pelantikan PC IMM Kota Semarang
periode 2006-2007
07.00-08.00 : Pembukaan Seminar dan Diskusi Publik
1. Upacara Pembukaan
2. Seminar dan Diskusi Publik "Meneguhkan kembali Komitmen
KeIndonesiaan"
a. Amirudin (DPP IMM)
"Praksis Gerakan untuk Meneguhkan Kembali Komitmen Ke-
Indonesiaan"
b. Hafid Sirodudin, SE (Ketua Komisi B DPRD Jateng)
"Politik Kerakyatan untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan
Kemandirian Bangsa"
c. Prof. Abu Su'ud (Budayawan)
"Kontruksi Budaya sebagai upaya Meneguhkan Kembali
Komitmen Ke-Indonesiaan utk mencapai Kesejahteraan dan
Kemandirian Bangsa"
3. Penutup
12.00-14.00 : Ishoma
14.00-selesai : MUSYKERCAB

Monday, April 17, 2006

Recovery.. Recovery...

it's time 2 recovery our spirit,
masih banyak tantangan yang menantang di depan,
masih banyak aral menghalang,
dunia masih menanti untuk dijelajahi,
gunung masih menjulang untuk didaki,
mengalahkan diri sendiri,
itulah kemenangan sejati...

Saturday, February 25, 2006

Menegaskan (kembali) peran Perempuan

Menegaskan (kembali) Peran Perempuan

Di luar hujan masih rintik-rintik. Sejenak dia melangkah, menghampiri pintu yang diketuk pelan. Didepannya berdiri seorang anak kecil, dengan baju basah kuyup dan sepertinya sedang pilek. Tanpa banyak tingkah, sambil menyodorkan sekuntum mawar merah dengan sangat tenang, anak itu berkata, ‘selamat ulang tahun, bu’

Salam. Fragmen ini sering kita lihat di televisi, iklan sebuah produk farmasi bermerk asing. Dan, saya tertarik untuk menjadikannya sebagai pembuka tulisan ringan menyambut hari ibu sebentar lagi.

Berbicara tentang peran ibu tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan seputar perempuan. Karena secara biologis, yang bisa berperan sebagai ibu adalah perempuan. Dalam tradisi berbagai agama dan kebudayaan, perempuan banyak dipandang sebagai masyarakat kelas dua, dibawah laki-laki. Sebutlah dalam tradisi Jawa, sampai pemberontakan kultural Kartini, perempuan tidak boleh mengenyam pendidikan sama sekali (Selain karena politik kolonial Belanda, tradisi Jawa memang ketat dalam hal ini). Yang masih nampak sampai sekarang, istri yang notabene adalah perempuan dianggap sebagai konco wingking, atau hanya memainkan peran dibelakang layar sebagai pendukung kiprah suami. Demikian juga tradisi sejumlah agama samawi, menempatkan perempuan dalam porsi yang berbeda dari laki-laki. Pun demikian, saat ini banyak dogma agama terkait peran perempuan yang coba dikaji dan ditafsir ulang oleh para ulama kontemporer.

Diskursus ini tidak akan lepas dari kajian gender, kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Karena nampaknya, hal itulah yang masih menjadi perhatian utama kaum perempuan saat ini. Akses politik, ruang publik, dan ruang pekerjaan yang setara senantiasa menjadi tema sentral sejumlah organisasi perempuan atau pembela perempuan. Namun, satu hal yang harus menjadi pijakan kita bersama adalah bahwa pembedaan peran ini terkait dengan konstruk budaya patrialkal masyarakat di hampir seluruh belahan dunia. Sejak era berburu di zaman purbakala pun, perempuan ditempatkan di lini kedua menangani urusan domestik yakni mengurusi anak-anak dan memasak, Sementara laki-laki dewasa berburu dan mencari makanan.

Secara prinsipil, menurut saya tidak ada masalah berarti dalam pembagian peran tersebut, yang menjadi masalah sejauh ini adalah mindset kita terhadap peran domestik itu. Kita sendirilah (termasuk sebagian perempuan juga lho!) yang menganggap peran domestik hanya sebagai peran pendukung kehidupan semata. Padahal, kalau kita hitung secara ekonomis saja, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang ibu yang menjadi wanita karier, untuk menyewa pembantu yang membersihkan rumah dan memasak, menyewa baby sitter untuk mengasuh anak, dan mencarikan sekolah mahal untuk menjamin kualitas pendidikan anaknya. Waktu produktif ibu rumah tangga yang digunakan untuk melakukan pekerjaan domestik tersebut sejauh ini tidak kita anggap sebagai sesuatu yang sama bernilainya dengan jumlah uang yang dibawa pulang suami setiap bulannya. Belum lagi, ada sebagian ibu yang menanggung peran ganda selain mengurusi rumah tangga sekaligus pencari nafkah keluarga juga, salut banget deh!

Berbicara tentang fungsi biologis perempuan sebagai mitra laki-laki dalam meneruskan kehidupan di bumi ini, perempuanlah yang memegang penderitaan terbesar saat mengandung dan pada masa awal memelihara anak. Selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari perempuan mengandung dan menanggung resiko kematian saat melahirkan. Karena itu wajar apabila perempuan yang meninggal saat melahirkan dikategorikan sebagai syahid. Lebih dari itu, dalam tradisi Islam (dan beberapa agama samawi lain), perempuan rela untuk ’meninggalkan’ sejumlah ibadah wajib karena menstruasi. Menstruasi inipun tidak lepas dari tanggung jawab biologis perempuan untuk melanjutkan kehidupan. Sementara laki-laki? Dengan entengnya, setelah berhubungan intim dengan istri cukup mandi wajib dan bisa kembali beribadah kepada Tuhan.

Lebih jauh, mengikuti sejumlah teori psikologi, peran ibu dalam pembinaan kejiwaan anak berkaitan dengan nilai kedamaian, kasih sayang, toleransi, kejujuran dan banyak sekali moral personal lain. Sementara peran ayah diasosiasikan dengan ketegasan, sikap dan tindakan yang senantiasa dinilai dengan benar-salah, dan identik dengan punishment. Perbedaan inipun seharusnya menjadi kredit poin tersendiri bagi kita dalam mengapresiasi peran perempuan sebagai ibu. Harus diakui, penghargaan terhadap kelebihan perempuan disisi ini tidak (belum) mendapat tempat yang selayaknya. Fakta bahwa sebagian besar guru TK dan SD kelas awal merupakan perempuan adalah sebuah bukti betapa peran sentral perempuan dalam perkembangan kejiwaan anak sangat penting. Kemudian, nilai-nilai kesabaran yang telah ditumbuhkan ibu guru terhadap anak didik di masa awal ’dirusak’ oleh ’bapak guru’ yang lebih sering mengedepankan ’punishment’ jika siswa datang terlambat ke sekolah ataupun lupa tidak mengerjakan PR. Demikian selanjutnya sikap mental kita lebih banyak dididik dengan cara laki-laki daripada cara perempuan.

Maka, penghargaan terhadap ibu tidak bisa dilepaskan dari penghargaan terhadap perempuan secara keseluruhan. Bukan lagi saatnya perempuan dengan segenap tanggung jawab dan kemampuan lebihnya dianggap sebagai second line laki-laki semata, tetapi harus diposisikan sebagai mitra sejajar yang derajatnya sama dengan pria, hanya saja ada perbedaan peran peran yang dilakukan dan bisa diterima kedua belah pihak secara adil dan bermartabat. Format kesetaraan dalam perbedaan peran inilah yang masih harus kita diskusikan bersama lebih jauh.

Maka kepada para immawati, selamat berefleksi di hari ibu ini. Jangan patah arang dan tetaplah bersemangat dalam berjuang. Carilah immawan yang menghargai peran perempuan sebagai ibu! Abadi perjuangan!

Mendayung Perdamaian Multikultural

Mendayung Perdamaian Multikultur[1]

Isu multikulturalisme selayaknya menjadi perhatian serius bagi bangsa Indonesia, setidaknya karena tiga hal. Pertama, etnisitas di Indonesia sangatlah kompleks, ada sekitar tiga ratus lebih etnis dan suku bangsa yang ada di Indonesia, yang kesemuanya memiliki tatanan budaya yang unik dan berbeda satu sama lain. Kedua, sejak awal terbentuknya, bangsa ini merupakan bangsa yang toleran, adaptif dan kadangkala sinkretis terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia, maka ciri ini harus terus dipertahankan untuk melakukan dinamisasi kebudayaan. Dan ketiga, karena banyaknya konflik yang terjadi di Negara kita nampaknya berbau rasialis dan agama, padahal permasalahan utamanya tidaklah terletak pada kedua hal tersebut.
Multikulturalisme dapat dipahami secara sederhana sebagai sikap mengakui adanya the others yang memiliki tatanan budaya sendiri, berdiri sejajar dengan kita, kemudian saling berinteraksi dengan harmonis dan menghargai segala perbedaan yang ada. Namun, inipun tidak mudah dilakukan karena banyaknya perbedaan (dan mungkin pembedaan) yang tidak bisa diterima oleh masyarakat. Menurut Franz Magnis Suseno, konflik yang sering terjadi dengan kedok ras dan agama bersumber pada empat hal pokok, yaitu pertama, modernisasi dan globalisasi yang telah masuk jauh ke masyarakat Indonesia menumbuhkan konflik primordial. Kedua, adanya akumulasi kebencian dalam masyarakat. Ketiga, berkembangnya budaya kekerasan secara massif dalam masyarakat Indonesia. Dan keempat, sistem politik yang dikembangkan orde baru. Semua faktor ini berkelindan membentuk budaya masyarakat yang mudah tersulut konflik. Ini menjadi tantangan bagi kita sebagai umat Islam, yang notabene jumlahnya mayoritas di Indonesia. Karena Jika bangsa ini menderita konflik yang berkepanjangan, maka yang akan mengalami kerugian terbesar tentunya umat Islam juga.
Islam, sebagai keyakinan utama kita selama ini, sangat mengakomodir isu multukultur dalam berbagai sumber hukum dan sejarah awal Islam. Al Qur’an mengajarkan bahwa tidak ada pemaksaan dalam beragama (QS 2: 256). Sejarah Rasulullah pun demikian adanya, beliau tidak memaksakan Islam sebagai agama wajib untuk orang Arab (bahkan ketika umat Islam sudah menguasai Madinah) dan tidak menolak ketika ada orang non-Arab memeluk Islam. Sepeninggal Rasulullah, di masa sahabat dan thabi’in, Islam telah terbentang dari daratan Afrika sampai Eropa. Penyebarannya dilakukan melalui jalan damai dan dapat diterima dengan baik oleh berbagai bentuk budaya setempat yang lebih dulu eksis. Maka bila akhir-akhir ini sebagian diantara saudara kita, sesama umat Islam melakukan kekerasan atas nama agama, patutlah kita menentangnya.
Sebagai Tuhan yang universal, tentunya Allah tidak akan membedakan hamba-Nya berdasarkan penampilan lahiriah semata, namun Dia melakukan stratifikasi hamba berdasarkan ketaqwaan kita kepadaNya. Maka menjadi kewajiban kitalah untuk menyebarkan Islam sebagai agama yang toleran dan menebarkan rahmat kepada seluruh alam (QS 21: 107), berlomba - lomba dalam kebaikan (fastabiq al khairat) serta pemihakan sosial kepada kaum mustadh’afien.
Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan yang kita miliki akan menjadi sumber konflik sebagaimana terjadi selama ini. Sebaliknya, dengan manajemen yang baik kekayaan kultur yang kita miliki akan menunjukkan karakter kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai perbedaan sebagai sebuah keniscayaan. Menyemaikan perdamaian multikultur dapat dilakukan secara cultural maupun structural. Secara cultural, melalui pendidikan dan memperbesar ruang interaksi antara budaya yang ada di masyarakat. Sedangkan secara struktural dilakukan dengan memperkecil gap, terutama ekonomi dan sosial yang ada di masyarakat Indonesia.

BAHAN BACAAN
Abdurrahman, Moeslim. 2005. Islam yang Memihak. Yogyakarta: LKiS
Anonim. 2003. Konflik Komunal di Indonesia saat Ini. Jakarta: INIS
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2001. Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah
Baidhawy, Zakiyuddin, Thoyibi, M. (ed). 2005. Reinvensi Islam Multikultural. Surakarta: PSB PS UMS

Gapailah setiap gudang ilmu dengan cita dan cinta pada pengetahuan
[1] Disampaikan dalam forum diskusi Imagine Community IMM Semarang, Sabtu 17 september 2005 naskah ini merupakan special gift dari forum serambi kajian multikultural 1 dan 2 yang diselenggarakan oleh PSB-PS UMS pada tanggal 22-24 Mei 2005 dan 2-4 September 2005 di Kartasura

Relativitas Ke-Tuhan-an

Relativitas ke-Tuhan-an

Salam. Konon, teori relativitas yang dikemukakan oleh Einstein menjadi tonggak perkembangan fisika modern dan fisika kuantum. Konon pula, teori relativitas ini segera mempengaruhi ilmuwan di bidang-bidang lain dan mengubah berbagai aspek kehidupan umat manusia. Maka sekarang kita makin akrab dengan pernyataan bahwa segala sesuatu itu relative, tidak ada yang absolute di alam semesta ini. Pun demikian dengan pemahaman kita atas segala sesuatu, semuanya menjadi relative…

Satu kata yang terkait erat dengan relativitas adalah dinamika. Dinamika merupakan lawan kata dari statika. Karena merupakan antonim atau lawan kata, maka keduanya berseberangan arti. Jika dinamika dikaitkan dengan adanya gerakan, maka statika dikaitkan dengan diam. Padahal tidaklah selalu demikian, dalam sebuah dinamika pasti ada yang diam hingga gerakan itu bisa dilihat, dan dalam sebuah statika pasti ada yang senantiasa bergerak hingga dia bisa stabil. Menurut biksu Tong Sam Chong, kosong adalah hampa dan hampa adalah kosong (lho kok?).

Tulisan ini tidak ingin membahas tentang fisika atau ajaran Budha, tetapi yang pasti relativitas ada dalam kehidupan kita, termasuk dalam alam pemikiran keagamaan. Jika dulu manusia purba menganggap bahwa Tuhan mewujud dalam benda alam dan setiap peristiwa luar biasa yang menyertainya seperti guntur dan halilintar, dan sekarang Tuhan mewujud dalam bentuk lain, maka itulah yang dinamakan relativitas ke-Tuhan-an. Tetapi jangan dimaknai bahwa Tuhan itu relatif sebagaimana ciptaan-Nya. Relativitas ke-Tuhan-an terkait dengan pemikiran dan persepsi kita tentang Tuhan, bukan tentang Zat Tuhan itu sendiri.

Karena pemikiran tentang Tuhan itu bersifat relatif, maka tidak ada kebenaran tentang Tuhan yang absolut. Toh, meskipun Tuhan melarang kita untuk berfikir tentang zat-Nya, Dia tidak melarang kita untuk memikirkan ciptaan-Nya. Memikirkan ciptaan-Nya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya (membaca ayat Kauniyah) adalah sebuah bentuk peribadatan yang dianjurkan dalam setiap agama.

Dengan demikian, sampailah kita pada sebuah kenyataan bahwa Tuhan itu satu (Esa, Tawhid). Tetapi persepsi tentang Tuhan yang esa itu tidaklah tunggal, tetapi majemuk dan sangat beragam. Bagi masyarakat purbakala, Tuhan bisa mewujud dalam bentuk Matahari, Api, Pohon Besar dan sebagainya. Bagi masyarakat yang menggolongkan dirinya dalam agama formal, Tuhan dimanifestasikan sebagai Trinitas, Allah, Sang Budha, Sang Hyang Widhi, maupun berbagai Dewa dalam agama Politeis. Pada prinsipnya (saya yakin ini diterima oleh semua manusia yang meyakini adanya Tuhan, baik yang mengikuti dengan agama formal maupun tidak), Tuhan diyakini sebagai Realitas Agung yang tidak bisa dijangkau oleh manusia, karena itu diyakini keberadaanNya sebagai pengatur alam semesta.

Kembali ke soal relativitas. Ada satu lagi kata kunci terkait dengan ini, yakni proses. Karena hidup kita relatif dan berproses, maka kita akan senantiasa mengalami perubahan dan pembaharuan, termasuk dalam hal pemikiran. Proses dan dialektika dalam mengarungi hidup ini akan melahirkan berbagai keahlian, ilmu, ketrampilan, dan yang tertinggi adalah sebuah kebijaksanaan (wisdom). Itulah mengapa al Farabi mengklaim bahwa negara terbaik adalah yang dipimpin oleh filosof, karena filosof dianggap memiliki kebijaksanaan tertinggi diantara golongan masyarakat lain.

Proses mencari kebijaksanaan inilah yang sejatinya akan membawa kita kepada pemahaman hakiki tentang Realitas Agung diluar kita. Maka, dalam khazanah Al-Quran, Allah berkata bahwa Dia sangat menghargai proses pencarian Tuhan daripada sekedar hasil menerima Tuhan sebagai sesuatu yang taken for granted (mengikuti warisan agama nenek moyang). Ini jelas dinyatakan dalam kisah Ibrahim yang sedang mencari Tuhannya. Dan saya yakin, secara lebih luas, bahwa Allah lebih mencintai hamba-Nya yang mencari Tuhan dengan akal untuk membaca ayat Kauniyah dan Qauliyah, bukan dengan mempelajari dogma literer (pembacaan terhadap ayat Qauliyah) semata. Karena itu, konsepsi agama yang sekarang ada (termasuk Islam) akan senantiasa mengalami perubahan, mengalami proses dan relativitas dalam sebuah dunia pemikiran yang dinamis.

Jika demikian, tentunya tidak ada lagi klaim kebenaran sebuah agama sebagai satu-satunya jalan mencapai Tuhan. Ibarat pepatah ada seribu jalan menuju Roma, maka demikian pula jalan menemukan Tuhan ada banyak sekali, (mungkin sebanyak makhluk yang diciptakan Tuhan) dan akan berbeda antara satu orang dengan yang lain. Pengalaman beragama dan perjumpaan dengan Tuhan akan bersifat relatif dan sangat personal. Disini, agama formal berperan sebagai sekumpulan petunjuk yang bersifat umum untuk membantu menemukan Tuhan.

Maka, saya sampai pada kesimpulan bahwa janganlah kita mengabsolutkan suatu agama (atau pemahaman keagamaan) dan menempatkannya lebih tinggi diatas agama (atau pemahaman keagamaan) lain. Mari menikmati beragama sebagai sebuah dialektika dan proses. Jangan sampai kita mengabsolutkan persepsi kita tentang Tuhan, yang boleh mengabsolutkan Tuhan hanyalah diri-Nya sendiri. Abadi Perjuangan!

Membangun Peradaban Islami Dengan Cinta

Membangun Peradaban Islami dengan Cinta[1]
Nuruz Zaman[2]

Ketika Radio BBC mengadakan polling tentang kata apa (dalam bahasa Inggris) yang paling banyak digunakan masyarakat di seluruh dunia, ada dua kata menarik yang disampaikan para responden untuk menjawab pertanyaan tersebut, Mother dan Love. Ibu dan Cinta. Ini menunjukkan bahwa kata Ibu dan Cinta, dimana keduanya merujuk pada kasih sayang, dimiliki oleh seluruh umat manusia. Tanpa membedakan ras, warna kulit, ataupun agama. Cinta tumbuh di hati setiap manusia, karena Cinta merupakan keniscayaan Fitri yang dikaruniakan Allah kepada manusia.
Sebagai sebuah keniscayaan fitri, tentunya cinta merupakan sebuah potensi besar untuk merajut perdamaian di seluruh dunia dan menjadikannya sebagai landasan peradaban manusia yang mengedepankan nilai-nilai ilahiah. Inilah cita-cita bersama yang hendaknya tumbuh di sanubari kita. Membangun peradaban yang mengobarkan pesan abadi Allah (Q.S 49: 13) yang humanis, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS 21: 107). Pada hakekatnya cinta merupakan ajaran inti setiap agama, karena tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk saling membenci, berbuat keji dan melakukan kerusakan.
Mungkin akan muncul pertanyaan, Cinta yang seperti apa yang dipakai untuk membangun peradaban? Apakah seperti kisah cinta yang kita saksikan di kalangan anak muda dewasa ini, ataukah bentuk cinta yang lain? Dalam salah satu episode dakwah yang kisahnya sampai pada kita, Rasulullah telah menyampaikan pesan, tiga perkara yang jika ada dalam diri seseorang maka dia akan merasakan manisnya iman: mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada yang lain, mencintai seseorang karena Allah dan membenci kekafiran setelah Allah menyelematkannya, sebagaimana membenci apabila dimasukkan kedalam api neraka (Riwayat Bukhari, Muslim, Nasai, Tirmizi).
Secara sederhana ketiganya dapat dijelaskan sebagai berikut. Mencintai Allah dan Rasulnya dilakukan dengan senantiasa menjadikan Allah sebagai tujuan dan Rasulullah sebagai tuntunan. Salah satu aplikasi ketaatan kepada Allah dan Rasulnya adalah dengan menerapkan Islam secara kaffah. Secara ideal, tugas kita adalah menjadi khalifah fil ardl untuk memakmurkan bumi (QS. 2: 30) dan beribadah kepada-Nya. Dengan demikian menerapkan Islam secara kaffah dapat dikonkritkan membangun peradaban Islami yang diliputi oleh nilai-nilai humanitas, kedamaian, sikap ramah dan santun (QS. 21: 107). Landasan teologis ini menjadi sesuatu yang vital, karena dengan landasan teologis yang kuat seperti inilah kita menjadi yakin dan meyakini bahwa apa yang kita lakukan memiliki dasar dan landasan yang kokoh serta dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua, mencintai seseorang karena Allah. Makna pernyataan ini sangatlah luas, seluas makna Islam sebagai ajaran Islam yang universal dan menjadi rahmatan lil ‘alamin. Mencintai seseorang tidak melulu cinta antara seorang pria dengan wanita semata, itu hanyalah salah satu manifestasinya. Selain itu, kecintaan kita kepada anak yatim, fakir miskin, serta golongan masyarakat tertindas lainnya adalah sebuah kewajiban bagi seorang muslim. Apabila hal ini tidak kita laksanakan, maka kita termasuk pendusta agama (QS. 107). Disinilah urgensi Islam yang memihak, aplikatif dan langsung menyentuh persoalan riil masyarakat dewasa ini. Islam yang memihak bukanlah Islam yang menekankan ritualitas ibadah mahdhah seperti shalat, puasa zakat dan haji semata, tetapi Islam yang mampu menjawab tantangan dan persoalan keumatan dewasa ini.
Ketiga, benci kepada kekafiran sebagaimana benci dimasukkan kedalam api neraka. Perlu ditekankan, benci kepada kekafiran adalah kebencian kepada sifat dan sikap yang kufur, bukan kepencian kepada manusia yang memiliki sikap tersebut. Karena kekufuran bisa saja dimiliki oleh seseorang yang mengaku Islam serta bisa saja seorang non muslim menerapkan intisari ajaran Islam dengan lebih baik daripada kita yang muslim. Dan alangkah indahnya Islam jika kebencian kepada kekufuran ini diwujudkan tidak dengan perang, kekerasan, ataupun tindakan teror tetapi dengan sikap hikmah, mauidhah hasanah dan berargumen secara ahsan sebagaimana yang diajarkan untuk melakukan da’wah.
Sikap memusuhi, tindakan kekerasan maupun terror yang akhir-akhir ini sering kita lihat dilakukan oleh sebagian saudara kita terhadap saudara kita yang lainnya bukanlah solusi konstruktif untuk membangun peradaban Islami, tetapi malah akan menampilkan citra Islam sebagai agama barbar dan tidak mengenal bahasa selain kekerasan. Akan lebih baik, jika energi yang ada kita salurkan untuk membangun pemahaman umat tentang Islam secara lebih sempurna, melakukan aktivitas sosial untuk meringankan beban masyarakat miskin yang hampir seluruhnya adalah umat Islam.
Permasalahan yang dihadapi umat Islam saat ini secara riil adalah permasalahan ekonomi (kemiskinan, kapitalisme yang menggurita, control asing terhadap sumberdaya lokal) dan serangan budaya yang sangat dahsyat. Menghadapi itu kita tidak bisa melakukan apa-apa. Maka jangan heran, kalau sebagian umat Islam beralih agama dan berpindah keyakinan karena bantuan sosial yang diberikan oleh umat agama lain. Mereka belum bisa melihat peran nyata Islam dalam kehidupan mereka.
Solusi konstruktif untuk mengatasi permasalahan itu adalah dengan menerapkan Islam secara kaffah, salah satunya tertuang dalam hadis yang telah diurai diatas. Kecintaan kepada Allah dan Rasul, Cinta karena Allah dan membenci sikap kekufuran adalah solusi konstruktif dan aplikatif mewujudkan cita-cita peradaban Islami. Billahi fii sabiilil haq, fastabiqul khairat.



[1] Disampaikan dalam forum kajian FKIS, Kamis, 7 Oktober 2005
[2] Ketua Umum PK Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Ibnu Sina Tembalang Periode 2004 - 2005

Islam Yang Humanis

Islam yang Humanis, sebuah jawaban singkat

Sisi humanitas merupakan salah satu bagian vital ajaran Islam, bahkan kemanusiaanlah isu yang menjadi tema sentral diturunkannya Islam sebagai agama paripurna yang diturunkan Allah. Tulisan ini tidak secara focus membidik tema humanitas Islam an sich, tetapi lebih kepada proses dakwah yang humanis (memperhatikan sisi kemanusiaan) dan relevansinya dengan kondisi lokalitas masyarakat.

Mengapa Islam diturunkan di Arab?
Islam diturunkan kepada masyarakat Arab yang pada masa itu dikenal Jahiliyyah (terj harfiah: bodoh). Kejahilan masyarakat Arab terutama pada aspek sosial budaya dan keyakinan beragama. Secara intelektual, mereka bukanlah orang-orang yang bodoh karena mereka mengenal sastra dengan sangat baik, sementara sastra adalah salah satu puncak ilmu pengetahuan. Mereka dikatakan jahiliyyah karena peradaban yang barbar (suka berperang dan membunuh), chauvinis (mengagung - agungkan suku sendiri), perbudakan yang meraja lela, melakukan stratifikasi sosial berdasarkan kekayaan, membedakan peran antara laki-laki dan perempuan (gender) serta golongan kaya menindas golongan miskin dengan sangat keterlaluan. Keyakinan yang mereka ikuti waktu itu adalah pemujaan berhala yang diletakkan di sekitar Ka’bah.
Realitas dan ketimpangan sosial yang terjadi pada waktu itu benar-benar memprihatinkan. Perbudakan manusia menjadi hal yang wajar serta status orang dinilai dari berapa banyak kekayaan (yakni binatang dan perniagaan yang dimiliki).
Di tempat dan waktu seperti inilah Muhammad dilahirkan. Selama 40 tahun usia beliau, beliau mencari jawaban atas segala kenyataan yang dihadapi. Beberapa tahun sebelum menerima wahyu Muhammad sering menyendiri dan menyepi untuk mencari petunjuk Allah, sang Pencipta. Waktu itu terminologi Allah sebagai Tuhan sudah dikenal, namun aqidah yang mengakui Allah sebagai Tuhan yang Esa belum tertanam di masyarakat Makkah. Muhammad diutus oleh Allah kepada kaum Arab dengan kondisi sosial masyarakat semacam ini setidaknya untuk dua alasan. Pertama, alasan kesinambungan ajaran Tauhid. Allah sudah menjanjikan bahwa keturunan Ibrahim adalah orang-orang terpilih dan menjadikan mereka sebagai pelanjut agama Tauhid, millatu Ibrahim. Untuk itulah nabi terakhir diturunkan di Arab, yang notabene cikal bakalnya adalah Ismail, putra Ibrahim. Ini juga sebagai penegasan bahwa secara esensi agama Islam sudah ada sejak dahulu. Sejak nabi Adam, Nuh, ibrahim, Musa, Isa sampai Muhammad ajaran yang dibawa adalah satu, Islam, yang senantiasa disempurnakan dan diperbaharui selaras dengan kemajuan peradaban manusia. Islam yang dibawa Muhammad adalah bentuk formalisasi ajaran Tauhid dan kodifikasi paripurna ritual keagamaan para Nabi dan Rasul.
Kedua, sebagai simbol dan pernyataan lugas Allah bahwa pengabdian manusia melalui Islam bukan untuk Allah, tetapi untuk manusia sendiri. Hakikat ibadah kita bukanlah untuk memuaskan keinginan Allah sebagai Pencipta yang harus disembah dan senantiasa diagungkan, tetapi untuk mengangkat harkat kemanusiaan. Kenapa demikian? Karena dengan penerapan Islam secara kaffah dan total, manusia bisa terselamatkan dan menyelamatkan hidup dan kehidupannya baik di dunia maupun akhirat.
Secara konkrit, perbedaan budaya kaum Arab pra-Islam dan pasca Islam dapat dilihat dari tatanan masyarakat yang lebih teratur, berkembangnya kesetaraan manusia secara luar biasa, dirintisnya penghapusan perbudakan, persamaan hak antara laki-laki dan perempuan serta yang tidak kalah penting, pengakuan akan keterbatasan manusia dihadapan Dzat Pencipta yang Maha Esa, Allah SWT.

Tahapan Dakwah Islam
Tahapan dakwah yang dilalui Rasulullah dapat diklasifikasikan menjadi tiga periode penting. Dalam bahasa saya, Periode penanaman Aqidah, penguatan basis sosial kemasyarakatan dan legitimasi kenegaraan.
Periode penanaman Aqidah berlangsung selama kurang lebih tiga belas tahun da’wah Muhammad di Makkah. Sampai hijrahnya Rasulullah ke Yatsrib, beliau membangun fondasi Tauhid yang kokoh bagi umat yang baru terbentuk. Beberapa tahun pertama, Muhammad tidak mendapat respon positif dari kaum Quraisy, bahkan beliau beserta sejumlah pengikut pertamanya senantiasa diteror oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam.
Dengan medan dakwah yang seperti ini, dapat dipahami mengapa ayat-ayat Al-Qur’an yang turun pada waktu itu (dinamakan surat makkiyah) banyak membahas tentang aspek Aqidah, Penyerahan diri dan penggantungan nasib hanya kepada Allah serta pengaturan basis mentalitas beragama yang kuat.
Bagian kedua dakwah Muhammad dimulai semenjak hijrahnya beliau bersama Abu Bakar As-Shiddiq ke Yastrib. Pada awal penataan masyarakat di Yatsrib ini, Rasulullah langsung menata basis sosial kemasyarakatan baru di kalangan penduduk Yatsrib (selanjutnya disebut Madinah). Suku sebagai basis kekeluargaan perlahan diganti dengan kesadaran Iman sebagai landasan persaudaraan, kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan kaum Anshar. Rasulullah menata masyarakat pertama kali dengan mendirikan masjid sebagai pusat penyebaran agama dan penataan masyarakat Islam. Ayat-ayat Alquran yang turun disini lebih banyak menekankan aspek muamalah dan hubungan antar sesama umat Islam maupun dengan umat yang lain.
Tahapan ketiga adalah penguatan kenegaraan. Setelah posisi kaum Muslim cukup kokoh di Madinah, Rasulullah mulai melakukan langkah-langkah politik untuk menegaskan kekuatan Islam sebagai sebuah kekuatan kenegaraan, lebih dari sekedar agama. Posisi Rasulullah tidak lagi sekedar pemimpin agama saja, tetapi bertambah dengan menjadi pemimpin politik. Maka, ayat yang turun disini adalah ayat yang menegaskan sejumlah hukum kenegaraan dalam aspek politik, kemasyarakatan serta hukum untuk menjaga ketentraman masyarakat. Tetapi Rasulullah tidak pernah menyebut Madinah sebagai sebuah Negara Islam. Yang dilakukan Rasulullah adalah penataan basis kenegaraan dengan berlandaskan pada Alqur’an dan wahyu Allah, disertai proses kreatif pembentukan budaya Islam bersama para sahabat. Istilah daulah belumlah menjadi sebuah terminology yang mapan dan digunakan Muhammad, karena saat itu kaum muslim baru terbebas dari jiwa kesukuan dan mulai memasuki tahap kesadaran tentang konsep ummah.

Respon Humanis Islam
Menyimak uraian tentang keadaan masyarakat Arab pra Islam serta tahapan dakwah nabi diatas ada beberapa poin yang dapat kita tekankan, yaitu bahwa dakwah Muhammad senantiasa melihat kondisi sosial masyarakat. Dan, pemecahan permasalahan yang terjadi di masyarakat dewasa ini hendaknya meneladani tahapan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah, yakni dimulai dengan penguatan aqidah masyarakat (baca: mental dan kualitas kepribadian), kemudian melakukan pembenahan kultur dan tatanan sosial masyarakat, baru kemudian memasukkan esensi ajaran Islam dalam norma dan aturan yang berlaku di masyarakat. Diantara beberapa poin yang dapat dikembangkan lebih jauh untuk memperbaiki keadaan pada tahapan penguatan aqidah masyarakat adalah sebagai berikut:
- Memperluas pemahaman Tauhid sebagai konsepsi pokok ke-Islam-an kita. Tauhid secara prinsip dimaknai sebagai penegasian ketergantungan kita atas segala kekuatan selain Allah. Menempatkan dunia dan segala isinya sebagai sarana, bukan tujuan. Dengan demikian, tidak akan terjadi penumpukan harta oleh sekelompok masyarakat saja (kapitalisme) dan ketergantungan yang berlebihan sebagian masyarakat terhadap kelompok masyarakat lain.
- Larangan melakukan korupsi/ memakan harta orang lain dengan cara bathil (Qs An-Nisa’ : 29). Ini akan menumbuhkan sikap mental kejujuran, akuntabilitas dan kesahajaan dalam hidup. Landasan teologis ini akan menjadi kokoh ketika masyarakat sudah memahami Tauhid dengan pemaknaan seperti diatas.
- Optimalisasi peran ulil amri (pemerintah) sebagai pelindung rakyat dan penjamin kesejahteraan masyarakat. Dengan aparat dan masyarakat yang tidak tamak akan duniawi maka sistem ekonomi yang telah terbangun saat ini, bukanlah sistem yang salah sama sekali dan harus dikoreksi secara total. Tanpa adanya korupsi maka pajak dan kekayaan alam kita insya Allah cukup untuk mengatasi berbagai permasalahan ekonomi dan belitan hutang luar negeri yang kita alami.
Langkah tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan semudah membalik tangan. Era keterbukaan informasi dan demokrasi mengharuskan kita untuk melaksanakannya dengan kreatif dan tanpa pemaksaan kehendak. Maka, peluang penanaman nilai-nilai tersebut adalah dengan dakwah kultural, bukan dengan dakwah struktural. Memang proses ini memerlukan waktu yang tidak sedikit namun hasilnya lebih baik karena Islam yang kita gali kemudian ditanamkan pada masyarakat adalah Islam secara esensi, bukan Islam secara lahir atau kulit luarnya saja.
Tulisan ini memang lebih fokus melihat permasalahan internal umat Islam di negara kita dewasa ini, bukan melihat pada permasalahan yang dihadapi saudara kita di belahan bumi lain. Karena, setiap negara muslim memiliki karakteristik dan kompleksitas permasalahan yang berbeda, akan lebih baik kalau kita melakukan introspeksi dan perbaikan internal sebagai bagian dari jihad kita untuk membela Islam.

Tanjungsari, 3 – 6 Ramadhan 1426 H
Nuruz Zaman
0815750 27260
nuruzzaman2@yahoo.com
www.immsmg.blogspot.com

Saturday, January 21, 2006

Recharge...

Kawan - kawan Immawan/ ti semua, karena satu dan lain hal, kini blog PC IMM Semarang direfresh. artikel yan sudah pernah ditampilkan akan diupload lagi sesegera mungkin. Abadi perjuangan!